Ahlan wa Sahlan fi Indonesia, Ya Raja Salman!


[PORTAL-ISLAM]  Selamat datang di Indonesia, wahai Raja Salman. Ahlan wa Sahlan biziyarotikum ila Indonesia. Raja Salman yang dimaksud adalah penguasa Saudi. Sebutan lengkapnya Jalalatul Malik Salman bin Abdul Aziz al Saud. Namun, ia — dan raja sebelumnya — lebih senang berjuluk Khadimul Haramain alias Pelayan Dua Tempat Suci, Makkah dan Madinah.

Raja Salman merupakan generasi kedua dari pendiri Kerajaan Arab Saudi, Raja Abdul Aziz al Saud (1876-1953). Ia putra ke-25 dari 36 anak laki-laki Abdul Aziz. Ia masih mempunyai 12 saudara laki-laki yang masih hidup. Usia rata-rata mereka sudah di atas 70 tahun. Salman sendiri berumur 81 tahun.

Tidak seperti di negara monarki lain, suksesi di Saudi tidak otomatis berlangsung dari bapak ke anak. Atau ke saudara laki-laki secara urut kacang. Ketika Raja Abdul Aziz sang pendiri kerajaan wafat, yang menggantikan adalah putranya, Saud. Namun, saat Saud mangkat, penggantinya bukan anak laki-lakinya, tapi saudaranya, Faisal (putra ketiga Abdul Aziz). Ketika Faisal wafat, ia digantikan saudaranya yang lain, Khalid (putra kelima). Khalid digantikan oleh Fahd (putra kedelapan). Saat Fahd meninggal, ia digantikan Abdullah (putra kesepuluh).

Semua raja harus menjadi putra mahkota terlebih dahulu. Ketika Abdullah jadi raja, yang ditunjuk jadi putra mahkota adalah Salman (putra ke-25). Namun, untuk pertama kalinya Abdullah juga menunjuk wakil putra mahkota, Muqrin. Ia putra ke-35 dan sekaligus bungsu dari anak laki-laki yang masih hidup.

Ketika Raja Abdullah mangkat pada Januari 2015, Salman otomatis menggantikannya sebagai raja dan Muqrin naik menjadi putra mahkota. Pada waktu bersamaan, Raja Salman menunjuk Muhammad bin Nayef bin Abul Aziz jadi wakil putra mahkota. Inilah untuk pertama kalinya generasi cucu dilibatkan dalam hirarki kekuasaan.

Namun, Muqrin beberapa bulan kemudian mengundurkan diri sebagai putra mahkota. Muhammad bin Nayef lalu ditunjuk mengisi kekosongan jabatan itu. Sedangkan yang diangkat jadi wakil putra mahkota adalah Muhammad bin Salman. Dengan demikian, kini ada dua Muhammad yang memegang tampuk kekuasaan di Saudi. Muhammad bin Nayef sebagai putra mahkota dan Muhammad bin Salman sebagai wakil putra mahkota. Keduanya merupakan generasi ketiga alias cucu sang pendiri kerajaan.

Meskipun Muhammad merupakan putra Raja Salman, namun sang penguasa Kerajaan Saudi itu hanya berfungsi sebagai yang ‘menyetujui’. Sedangkan penunjukannya dilakukan oleh Haiatu al Bai'ah (Dewan Kesetiaan), yang merupakan lembaga  kerajaan yang dibentuk Raja Abdullah. Lembaga yang beranggotakan keluarga kerajaan inti yang sudah senior ini dimaksudkan untuk menjamin suksesi kekuasaan di Arab Saudi berjalan aman dan lancar.

Walaupun alih kekuasaan merupakan urusan internal keluarga penguasa Saudi (Baitu al Hukmi al Sa’udy), namun kriterianya harus jelas. Seleksinya ketat. Seorang raja harus mempunyai kemampuan kepemimpinan, yang didasarkan pada rekam jejak prestasi saat menjabat di pos-pos penting kerajaan.

Hal inilah yang juga ditunjukkan Raja Salman. Sebelum jadi raja, ia pernah menjabat sebagai Gubernur Riyadh,  menteri pertahanan, dan kemudian putra mahkota dan sekaligus wakil perdana menteri. Sewaktu menjabat putra mahkota, Salman bahkan telah melakukan tugas-tugas sebagai raja lantaran kesehatan Raja Abdullah yang  kurang baik dalam beberapa tahun. Hasilnya, ia berhasil membawa Saudi sebagai salah satu negara paling  stabil di kawasan Timur Tengah yang terus bergejolak.

Namun, sejak menjadi orang nomor satu di Saudi dua tahun lalu, Raja Salman lebih banyak mendelegasikan tugas-tugas kerajaan kepada Muhammad sang putra mahkota dan Muhammad sang wakil putra mahkota. Termasuk berbagai kunjungan kenegaraan untuk bertemu dengan para pemimpin dunia, seperti Presiden Amerika, Rusia, Inggris, Prancis, Cina, dan seterusnya.

Sebagai wakil terakhir dari generasi kedua pendiri kerajaan, Raja Salman tampaknya ingin menjadi mentor buat dua Muhammad dari generasi cucu. Ia ingin meyakinkan kepada dunia bahwa suksesi di Saudi berjalan mulus. Apalagi trio penguasa Saudi saat ini bila dilihat dari sisi usia bisa dikatakan mewakili tiga generasi. Raja Salman 81 tahun, putra mahkota Muhamad bin Nayef 55 tahun, dan wakil putra mahkota Muhammad bin Salman 32 tahun.

Karena itu, kunjungan ke Indonesia yang dilakukan langsung oleh Raja Salman sendiri pada 1-9 Maret ini bisa dikatakan sebagai langka dan penting. Langka lantaran inilah kunjungan pertama Raja Saudi ke Indonesia setelah 47 tahun. Kunjungan terakhir dilakukan Raja Faisal bin Abdul Aziz pada 1970. Apalagi kunjungan ini disertai rombongan besar:  1.500 orang, 10 menteri, dan 25 pangeran. Bahkan Bali dipilih pula sebagai tujuan istirahat.

Dalam tata-cara pergaulan di Arab ada tradisi sangat menarik. Yakni, salam dijawab salam, jabat tangan dibalas jabat tangan, cium pipi kanan pipi kiri dibalas dengan tindakan serupa, dan kunjungan berbalas kunjungan. Bila pergaulan Anda dengan Arab sudah setingkat kunjungan berbalas kunjungan, maka Anda sudah dianggap sebagai orang yang bisa dipercaya. Anda sudah dianggap sebagai saudara. Pada taraf ini business as usual sudah tak berlaku. Perhitungan untung-rugi bisa diabaikan. Namun, jangan juga sampai nglunjak, dikasih hati minta jantung. Kunjungan Raja Salman dan rombongan selama sembilan hari di Indonesia bisa dimaknai seperti itu.

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia juga bermakna penting karena pengaruh besar Saudi di lingkungan Organisasi Kerja-sama Islam (OKI), Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Liga Arab, dan di kawasan Timur Tengah. Baik itu pengaruh ekonomi, politik, keamanan maupun agama. Lihatlah, selain Mekah dan Madinah, lembaga-lembaga penting juga bermarkas di Saudi. Seperti IDB (Islamic Development Bank), OKI, Muslem World League (Rabithah Alam Islami), dan Asosiasi Media Islam.

Saudi juga merupakan negara terdepan dalam memerangi terorisme, terutama ISIS dan Alqaida. Saudi yang kini berhaluan Suni moderat pun dikenal paling getol membendung pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah.

Sementara itu, di bidang ekonomi sejak setahun lalu Saudi sudah tidak lagi hanya mengandalkan minyak. Dalam Visi Saudi 2030 yang dirilis tahun lalu, mereka mulai mendeversifikasi sumber-sumber pendapatan negara. Intinya, ekonomi mereka lebih terbuka. Perusahaan minyak Aramco misalnya, yang dulu sahamnya dimiliki 100 persen oleh negara, kini sebagiannya sudah dilempar ke pasar modal. Aramco kini juga berinvestasi di luar negeri, termasuk di Indonesia.

Dengan latar belakang seperti itu, kunjungan Raja Salman ke Indonesia tentu mempunyai arti sangat penting dan strategis bagi kedua negara. Apalagi kunjungan kali ini menyertakan rombongan besar, yang di dalamnya melibatkan pejabat-pejabat penting yang terkait dengan bidang masing-masing. Indonesia tentu bisa memanfaatkan potensi yang ada pada Saudi. Begitu juga sebaliknya.

Misalnya kita bisa meminta tambahan kuota haji dari yang sudah diberikan oleh Saudi, dengan memanfaatkan kuota negara lain yang tidak terisi. Juga di bidang tenaga kerja. Selain perlindungan pada TKI/TKW, Indonesia juga bisa meminta agar diberi kesempatan lebih banyak mengirim pekerja-pekerja profesional.

Intinya, antara Saudi dan Indonesia banyak yang bisa dikerjasamakan. Raja Salman telah membuka peluang itu, dengan kunjungan yang langka dan penting ini. Kini, kewajiban kita sebagai tuan rumah untuk menyambut mereka sebaik-baiknya. Ahlan wa sahlan, ya Malik Salman!

Penulis: Ikhwanul Kiram Mashuri